Halaman

31 Jan 2014

Kurcaci Nakal!

            Suatu pagi di Desa kurcaci. Ada seorang kurcaci kecil, bernama ucil sedang berjalan2 di desa. Ia berjalan kesana kemari, sambil sesekali menyapa kurcaci lainnya yang berpapasan dengannya. Hari semakin siang. Cuaca pun semakin panas. Ia pun memutuskan berhenti dan duduk di bawah pohon besar di samping rumah kakek Waci. Ia mencabut satu daun dari pohon itu, dan mengipas2 tubuhnya dengan daun tersebut.
Ucil merasa haus. Ia berhenti mengipas2 tubuhnya. Lalu berpikir bagaimana cara agar ia mendapatkan air minum. Ia ingin pulang, tapi jarak rumahnya jauh. Ia tidak mungkin berjalan pulang dengan keadaan dirinya yang sangat haus. Belum lagi matahari yang terik berada persis di atas kepala. Lalu ucil melihat ke sekitar. Dan matanya berhenti pada sosok tua lelaki tua yang sedang berjalan keluar rumah dengan tongkat nya sambil membawa segelas es teh di tangannya. Air es menetes perlahan di gelas yang di pegang oleh kakek Waci. Ucil menelan ludah. Ia benar-benar sangat kehausan sekarang.
“ Duh, siang-siang yang panas seperti ini memang enak sekali minum air es! “. Ucil berkata. Ia membasahi bibirnya dengan lidahnya.
Kakek waci menaruh gelas berisi es teh tersebut di meja yang berada di teras rumahnya. Tapi, tiba-tiba ia teringat sesuatu lalu berjalan masuk ke dalam rumah dengan susah payah meninggalkan gelas berisi es teh itu di luar.
            Setelah kakek Waci masuk ke dalam rumah, Ucil berjalan mengendap-endap menuju teras kakek Waci. Lalu, Ucil menghampiri gelas berisi es teh milik kakek Waci. Ia mengambil gelas itu dan berlari ke balik pohon besar membelakangi rumah kakek Waci. Lalu ia duduk dan meneguk habis minuman itu. Ucil tersenyum. Lalu ia menaruh sembarangan gelas itu di sampingnya. Ia kembali bersandar di pohon itu sambil mengipas2 tubuhnya dengan daun yang ia ambil tadi. Tak lama, Ucil pun tertidur.
            Byuurr! Tiba-tiba seseorang menyiram Ucil dengan air ketika ia sedang tidur. Ucil pun bangun.
            “ Hoy kamu anak nakal! Kamu seenaknya aja tidur di halaman saya! Cabutin daun di pohon saya pula! Terus ini nih, apa-apa an kamu! “. Kakek Waci menunjukkan gelas miliknya yang tadi berisi es teh dan sekarang sudah habis diminum Ucil. Ucil mengucek matanya. “ Apa-apa an kamu minum minuman saya! Dasar anak nakal! “. Kakek Waci memukul bokong Ucil dengan tongkatnya.
            “ Duh, ampun kek! Ucil tadi haus banget “. Ucil meringis kesakitan. Ia pun berdiri lalu lari menjauhi rumah kakek Waci. “ Huh, dasar kakek tua yang galak! Seenaknya aja mukul-mukul pantatku! Emangnya gak sakit “. Ucil berjalan sambil menendangi batu kerikil yang ada di jalan.
            “ Hey Ucil! “. Seseorang memanggil Ucil. Ucil pun melihat ke arah suara.
            “Eh, Mega! Kenapa? “. Ucil berlari menghampiri Mega, teman sekolahnya, yang sedang ada di halamannya. Mega sedang memegang galah di samping pohon apelnya dan disebelahnya terdapat sebuah keranjang besar yang isinya buah-buah apel yang merah. “ Wah, kamu sedang panen apel ya, Mega!? “.
            “ Hehe, ya begitulah. Tapi aku lelah cil! Aku mau mengambil air minum ke dalam. Tapi, nggak ada yang jaga apel-apel ku! “. Mega berkata sambil menunjuk keranjang yang berisi apel disebelahnya.
            “ Oh, kalo itu serahkan saja padaku! “. Ucil bertolak pinggang dan menepuk-nepuk dadanya sambil tertsenyum bangga.
            “ Kamu mau jaga apel-apel ku? “. Mega tersenyum bahagia.
            “ Tentu saja “.
            “ Baiklah. Aku ke dalam dulu ya cil! Nanti aku kembali! “. Mega menyandarkan galah nya di pohon apel. Lalu, berlari masuk ke dalam rumah.
            Ucil membasahi bibirnya. Duh kebetulan sekali, aku lagi lapar. Ia pun melihat kesekelilingnya. Tidak ada orang. Lalu iya mengambil satu per satu apel dan menaruhnya di ujung bajunya yang ia buat seperti kantung. Setelah mengambil agak banyak. Lalu ia berjalan perlahan-lahan menjauhi rumah Mega. Ucil pun berjalan dengan santai sambil memakan apel-apel yang ia bawa tadi.
Sampai di rumah.
            “Ucil! Kemana aja sih kamu? Daritadi ibu cariin. “. Ibu Ucil bertolak pinggang di depan pintu rumah saat Ucil datang. Ucil menghiraukan ibu nya, ia langsung masuk ke dalam rumah sambil terus mengunyah sisa apel yg ada di mulutnya. “ Dasar. Ditanya orang tua malah diem aja! “. Saat ibu Ucil ingin masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba Mega dan Kak Wina, cucu dari kakek Waci datang dan memanggil ibu Ucil. “ Kenapa nak Mega dan nak Wina? “.
            “ Ibu! Ucil udah ngambil apel yang baru aku panen! “. Mega berkata sambil menunjukkan raut muka marah.
            “ Iya bu, Ucil juga udah ngambil teh manis kakek Waci terus ngerusak pohon kakek Waci dengan nyabutin daun-daun di pohon itu! “. Kak Wina menjelaskan dengan tenang. Ibu Ucil kaget. Ia pun segera memanggil Ucil. Dan Ucil pun keluar. Saat ia melihat Mega dan Kak Wina, Raut wajahnya menjadi setengah ketakutan.
            “ Bener kamu ngambil apel Mega dan ngerusak pohon kakek Waci? “. Tanya ibu Ucil sambil bertolak pinggang.
            “ Nggak bu! “. Ucil berkata.
            “ Yang bener? “. Ibu Ucil berkata lagi sambil mencubit lengan Ucil.
            “ Iya! Iya! Ucil ngaku! Ucil yang ngambil apel Mega dan ngerusak pohon kakek Waci! “. Ucil menunduk. Ibu Ucil hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ucil menatap ibunya, Mega, dan kak Wina bergantian. Lalu ia menghampiri Mega dan Kak Wina. “ Maafin Ucil ya Mega! Kak Wina! Ucil janji gak akan ngulangin lagi. “. Ucil berkata.
            “ Iya, kakak maafin! “. Kak Wina berkata sambil tersenyum.
            “ Iya, tapi jangan diulangin lagi! “. Mega berkata.


Dan sekarang masalahnya telah selesai. Ucil pun berubah menjadi anak yang baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar