“ Hompimpa alaium
gambreng!! “. Terdengar suara Leo, Rika, Riki, Firly, Anisa, adik-adik Mika
yang sedang memulai permainan di lantai atas. Mendengar itu, Mika pun berlari
menuju lantai atas melalui tangga. “ Hei, hei, hei! Kalian sedang main apa? “. Mika berkata
setengah berteriak. Mereka semua menoleh ke arah Mika. Lalu tersenyum.
“ Halo, kak Mika! Kami mau main
petak umpet. Tapi dengan tutup mata! “. Anisa menjelaskan, adik Mika paling
kecil yang masih kelas 2 SD.
“ Hmm, bagaimana caranya? “.
Tanya Mika, berniat ikut bermain dengan mereka.
“ Gampang kok kak! Salah satu dari kita harus ada yang jaga. Nah, yang jaga akan ditutup matanya. Setelah itu, yang jaga harus berputar sebanyak yang lain perintahkan. Lalu, ia harus mencari yang lain! “. Leo, adik Mika yang 2 tahun lebih muda dari Mika, menjelaskan. Mika diam sejenak, untuk mencerna kata-kata Leo. Semua menatap Mika. “ Kakak berminat ikut main? “. Tanya Leo. Semua masih menatap ke arah Mika. Mika berpikir sejenak. “ Oke! “. Mika berkata sambil tersenyum. Semua bersorak gembira, mendengar keputusan Mika untuk bermain. Mungkin karena Mika sudah lama tidak bermain bersama mereka. Hmm, sepertinya terakhir Mika bermain bersama mereka waktu Mika masih kelas 2 SMP. Sekarang Mika sudah kelas 3 SMA. 3 tahun Mika putuskan untuk tidak bermain bersama mereka, karena suatu kejadian. Waktu itu, mereka sedang bermain petak umpet tanpa penutup mata. Dan saat giliran Mika untuk berjaga. Mereka semua bersembunyi di tempat yang sampai saat ini Mika tidak tahu saat itu mereka bersembunyi dimana. Dan Mika mulai mencari, dan terus mencari. Mungkin kebodohannya disini. Tempat pertama yang Mika datangi untuk mencari mereka adalah di dapur. Ya, di dapur. Mika berusaha mencari mereka. Sampai kejadian itu. Jam di ruang tamu berdentang keras menunjukan pukul 13.00. Mika terkejut dan tidak sengaja tangannya menyenggol pisau yang ada di meja dapur hingga pisau itu terjatuh, dan menancap ke kakinya. Mika berusaha menahan teriakan dan juga menahan rasa sakit di kakinya. Tapi itu hanya bertahan 3 detik. Lalu, Mika berteriak sekuat tenaga. Ibu, Ayah, dan yang lainnya mendatanginya. Dan Mika segera di bawa ke rumah sakit. Sungguh mengerikan membayangkan kejadian itu. Dan sekarang, Mika memutuskan untuk kembali bermain dengan mereka. Karena kali ini, mereka bermain di lantai 2. Jauh dari dapur, yang berada di lantai 1. Ya walaupun jauh, mungkin Mika harus tetap berhati-hati. Dan di mulailah permainannya. Yang jaga pertama adalah Anisa. Saat Anisa mulai berputar, Firly berteriak “ Jangan berhenti di angka 11! “. Setelah itu kami mulai berlari untuk mencari tempat persembunyian. Mika bersembunyi di kamarnya sendiri. Jangan berhenti di angka 11? Hmm, berarti minimal ia harus berhenti setelah 12 kali berputar. Mika mengerti. Tak lama, ia menemukan Mika dengan keadaan mata tertutup. Ia tertawa saat menemukannya dan mulai berjalan mencari yang lain. Mika pun kembali ke tempat dimana tadi mereka mengawali permainan. Saat semua sudah di temukan oleh Anisa. Semua kembali berkumpul untuk mencari lagi siapa yang akan jaga selanjutnya. Dan ternyata, Firly lah yang jaga selanjutnya. Saat Firly mulai berputar dengan mata tertutup, Leo berteriak “ Jangan berhenti di angka 16! Haha! “. Lalu mereka mulai berlari mencari tempat persembunyian tanpa menghiraukan ekspresi muka Firly yang agak terkejut karena angka yang disebutkan oleh Leo mungkin terlalu banyak. Kali ini, Mika bersembunyi di kamar Rika dan Riki bersama Anisa. Firly pun akhirnya menemukan kami karena Anisa yang tertawa karena tangan Mika yang dengan tidak sengaja menyentuh lehernya. Ia geli kalau lehernya disentuh. Dan akhirnya mereka kembali ke tempat awal. Dan setelah semua sudah ditemukan oleh Firly, mereka kembali mencari yang akan jaga selanjutnya. Dan ternyata, Mika yang jaga selanjutnya. “ Yee! Kak Mika yang jaga! Hehehe! “. Anisa tertawa dengan lucunya. Mika mencubit pipi nya yang cabi. Leo pun memakaikan kain penutup mata pada Mika. Saat Mika memulai putaran pertama, tidak ada yang meneriakkan angkanya. “ Hey, kenapa tidak ada yang meneriakan angkanya? “. Tanya Mika sambil melakukan putaran ketiga. “ Sabar kak! aku belum sembunyi. Nanti aku teriakkan! “. Terdengar suara Anisa sambil tertawa kecil. Mika tersenyum. “ Oke! “. Mika terus berputar hingga putaran ke 9. Dan Anisa pun berteriak. “ Jangan berhenti di angka 13! “. Katanya diiringi dengan ketawanya yang lucu. Lalu ia mulai berlari menuju salah satu kamar. Saat ingin membuka pintu kamar, ia menoleh ke arah Mika dan berteriak lagi memanggil namanya saat Mika memulai putaran ke 11. Saat Mika memulai putaran ke 13, tiba-tiba Mika merasa ada sesuatu yang melukai kepalanya. Penutup matanya terlepas. Mika melihat darah yang menetes ke tangannya. Setelah itu Mika terjatuh. Hal yang terakhir ia lihat dan di dengar adalah Anisa yang berlari ke arah nya sambil meneriakkan nama Mika. “ Dimana aku? “. Kata Mika sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing. Ibu menghampiri Mika. “ Mika, kamu sedang ada di rumah sakit! Kepala mu terbentur paku di tembok saat sedang bermain dengan adik-adikmu! “. Ibu menjelaskan. Mika mencoba untuk bangun dari tidurnya. Tapi ibu menahanku. “ Jangan bangun dulu! Kau belum begitu pulih! “. Mika pun kembali ke posisi tidurnya. “ Anisa mana bu? “. Tanya Mika. Ibu tersenyum dan berjalan keluar ruangan memanggil Ayah dan adik-adik Mika yang lainnya. Dan tak lupa, si manis Anisa. Ia langsung berlari ke arahku dan memelukku. Lalu ia tertawa kecil. Mika tersenyum. “ Kakak waktu main kebanyakan senyum-senyum sih. Jadi kayak gini kan! “. Katanya sambil tertawa kecil. Mika kembali tersenyum. “ Waktu kakak berputar yang ke 11 dan 12, kakak agak bergeser dekat ke tembok. Makanya Mika teriak. Mika niat buat ngasih tau kakak, tapi terlambat. Maaf ya kak! “. Anisa berkata sambil menunduk. Mika tersenyum sambil mengelus rambut Anisa yang panjang sepunggung. “ Saat-saat seperti itu, justru kamu yang harus kakak ucapkan terima kasih pertama kali. “. Mika berkata sambil tetap mengelus rambutnya. Ia mengangkat kepalanya dengan raut wajah bingung. Mika kembali tersenyum. “ Kamu tau kenapa? Coba deh kamu bayangin. Kalo misalnya, kamu udah sembunyi. Kan gak ada yang tau kalo kakak terbentur tembok. Mungkin kakak udah pendarahan karena mengeluarkan darah lebih banyak. Ya kan? “. Mika berkata dengan lembut. Anisa tersenyum, lalu tertawa kecil. Ia memegang tangan Mika. “ Jangan berhenti di angka 13! “. Katanya sambil tersenyum kepada Mika. Mika balik tersenyum kepadanya, dan mulai menutup mata. “ Kak! “. Panggil Anisa lagi. Hanya itu yang terakhir Mika dengar sebelum Mika menghembuskan nafas terakhirnya.
“ Gampang kok kak! Salah satu dari kita harus ada yang jaga. Nah, yang jaga akan ditutup matanya. Setelah itu, yang jaga harus berputar sebanyak yang lain perintahkan. Lalu, ia harus mencari yang lain! “. Leo, adik Mika yang 2 tahun lebih muda dari Mika, menjelaskan. Mika diam sejenak, untuk mencerna kata-kata Leo. Semua menatap Mika. “ Kakak berminat ikut main? “. Tanya Leo. Semua masih menatap ke arah Mika. Mika berpikir sejenak. “ Oke! “. Mika berkata sambil tersenyum. Semua bersorak gembira, mendengar keputusan Mika untuk bermain. Mungkin karena Mika sudah lama tidak bermain bersama mereka. Hmm, sepertinya terakhir Mika bermain bersama mereka waktu Mika masih kelas 2 SMP. Sekarang Mika sudah kelas 3 SMA. 3 tahun Mika putuskan untuk tidak bermain bersama mereka, karena suatu kejadian. Waktu itu, mereka sedang bermain petak umpet tanpa penutup mata. Dan saat giliran Mika untuk berjaga. Mereka semua bersembunyi di tempat yang sampai saat ini Mika tidak tahu saat itu mereka bersembunyi dimana. Dan Mika mulai mencari, dan terus mencari. Mungkin kebodohannya disini. Tempat pertama yang Mika datangi untuk mencari mereka adalah di dapur. Ya, di dapur. Mika berusaha mencari mereka. Sampai kejadian itu. Jam di ruang tamu berdentang keras menunjukan pukul 13.00. Mika terkejut dan tidak sengaja tangannya menyenggol pisau yang ada di meja dapur hingga pisau itu terjatuh, dan menancap ke kakinya. Mika berusaha menahan teriakan dan juga menahan rasa sakit di kakinya. Tapi itu hanya bertahan 3 detik. Lalu, Mika berteriak sekuat tenaga. Ibu, Ayah, dan yang lainnya mendatanginya. Dan Mika segera di bawa ke rumah sakit. Sungguh mengerikan membayangkan kejadian itu. Dan sekarang, Mika memutuskan untuk kembali bermain dengan mereka. Karena kali ini, mereka bermain di lantai 2. Jauh dari dapur, yang berada di lantai 1. Ya walaupun jauh, mungkin Mika harus tetap berhati-hati. Dan di mulailah permainannya. Yang jaga pertama adalah Anisa. Saat Anisa mulai berputar, Firly berteriak “ Jangan berhenti di angka 11! “. Setelah itu kami mulai berlari untuk mencari tempat persembunyian. Mika bersembunyi di kamarnya sendiri. Jangan berhenti di angka 11? Hmm, berarti minimal ia harus berhenti setelah 12 kali berputar. Mika mengerti. Tak lama, ia menemukan Mika dengan keadaan mata tertutup. Ia tertawa saat menemukannya dan mulai berjalan mencari yang lain. Mika pun kembali ke tempat dimana tadi mereka mengawali permainan. Saat semua sudah di temukan oleh Anisa. Semua kembali berkumpul untuk mencari lagi siapa yang akan jaga selanjutnya. Dan ternyata, Firly lah yang jaga selanjutnya. Saat Firly mulai berputar dengan mata tertutup, Leo berteriak “ Jangan berhenti di angka 16! Haha! “. Lalu mereka mulai berlari mencari tempat persembunyian tanpa menghiraukan ekspresi muka Firly yang agak terkejut karena angka yang disebutkan oleh Leo mungkin terlalu banyak. Kali ini, Mika bersembunyi di kamar Rika dan Riki bersama Anisa. Firly pun akhirnya menemukan kami karena Anisa yang tertawa karena tangan Mika yang dengan tidak sengaja menyentuh lehernya. Ia geli kalau lehernya disentuh. Dan akhirnya mereka kembali ke tempat awal. Dan setelah semua sudah ditemukan oleh Firly, mereka kembali mencari yang akan jaga selanjutnya. Dan ternyata, Mika yang jaga selanjutnya. “ Yee! Kak Mika yang jaga! Hehehe! “. Anisa tertawa dengan lucunya. Mika mencubit pipi nya yang cabi. Leo pun memakaikan kain penutup mata pada Mika. Saat Mika memulai putaran pertama, tidak ada yang meneriakkan angkanya. “ Hey, kenapa tidak ada yang meneriakan angkanya? “. Tanya Mika sambil melakukan putaran ketiga. “ Sabar kak! aku belum sembunyi. Nanti aku teriakkan! “. Terdengar suara Anisa sambil tertawa kecil. Mika tersenyum. “ Oke! “. Mika terus berputar hingga putaran ke 9. Dan Anisa pun berteriak. “ Jangan berhenti di angka 13! “. Katanya diiringi dengan ketawanya yang lucu. Lalu ia mulai berlari menuju salah satu kamar. Saat ingin membuka pintu kamar, ia menoleh ke arah Mika dan berteriak lagi memanggil namanya saat Mika memulai putaran ke 11. Saat Mika memulai putaran ke 13, tiba-tiba Mika merasa ada sesuatu yang melukai kepalanya. Penutup matanya terlepas. Mika melihat darah yang menetes ke tangannya. Setelah itu Mika terjatuh. Hal yang terakhir ia lihat dan di dengar adalah Anisa yang berlari ke arah nya sambil meneriakkan nama Mika. “ Dimana aku? “. Kata Mika sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing. Ibu menghampiri Mika. “ Mika, kamu sedang ada di rumah sakit! Kepala mu terbentur paku di tembok saat sedang bermain dengan adik-adikmu! “. Ibu menjelaskan. Mika mencoba untuk bangun dari tidurnya. Tapi ibu menahanku. “ Jangan bangun dulu! Kau belum begitu pulih! “. Mika pun kembali ke posisi tidurnya. “ Anisa mana bu? “. Tanya Mika. Ibu tersenyum dan berjalan keluar ruangan memanggil Ayah dan adik-adik Mika yang lainnya. Dan tak lupa, si manis Anisa. Ia langsung berlari ke arahku dan memelukku. Lalu ia tertawa kecil. Mika tersenyum. “ Kakak waktu main kebanyakan senyum-senyum sih. Jadi kayak gini kan! “. Katanya sambil tertawa kecil. Mika kembali tersenyum. “ Waktu kakak berputar yang ke 11 dan 12, kakak agak bergeser dekat ke tembok. Makanya Mika teriak. Mika niat buat ngasih tau kakak, tapi terlambat. Maaf ya kak! “. Anisa berkata sambil menunduk. Mika tersenyum sambil mengelus rambut Anisa yang panjang sepunggung. “ Saat-saat seperti itu, justru kamu yang harus kakak ucapkan terima kasih pertama kali. “. Mika berkata sambil tetap mengelus rambutnya. Ia mengangkat kepalanya dengan raut wajah bingung. Mika kembali tersenyum. “ Kamu tau kenapa? Coba deh kamu bayangin. Kalo misalnya, kamu udah sembunyi. Kan gak ada yang tau kalo kakak terbentur tembok. Mungkin kakak udah pendarahan karena mengeluarkan darah lebih banyak. Ya kan? “. Mika berkata dengan lembut. Anisa tersenyum, lalu tertawa kecil. Ia memegang tangan Mika. “ Jangan berhenti di angka 13! “. Katanya sambil tersenyum kepada Mika. Mika balik tersenyum kepadanya, dan mulai menutup mata. “ Kak! “. Panggil Anisa lagi. Hanya itu yang terakhir Mika dengar sebelum Mika menghembuskan nafas terakhirnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar