Untuk memperingati Hut
RI ke-64, di desa suka maju, diselenggarakan acara “ Gebyar Seni “. Acara
tersebut akan diselenggarakan pada tanggal 18 agustus pada pukul 19.00 sampai
pukul 22.00 di Lapangan desa suka maju. Dila, adalah salah satu penduduk desa
suka maju. Dila ingin ikut perlombaan memainkan gamelan jawa, tetapi harapan
itu tercapai oleh sahabatnya, Dita. Dila tidak bisa ikut perlombaan itu karena
keuangan keluarganya yang berkecukupan. Jadi, ibu Dila tidak dapat mendaftarkan
Dila.
5
minggu sebelum hari H, Dila sedang memainkan gamelannya di teras rumah. Pak
Hasan, panitia perlombaan, dengan tidak sengaja lewat tepat di depan rumah
Dila. Beliau-pun mendengar ketukan demi ketukan gamelan yang dimainkan Dila.
Lalu, pak Hasan menghampiri Dila.
“ Ayah kamu ada? “. Tanya pak Hasan.
“ Ada! Masuk saja, tak usah sungkan-sungkan! “.
Jawab Dila. Pak Hasan pun menemui ayah Dila.
“ Pak,
Dila itu pintar memainkan gamelan, kenapa tidak didaftarkan saja di perlombaan
memainkan gamelan jawa? “. Tanya pak Hasan kepada ayah Dila.
“ Ya itulah, karena keuangan keluarga kami! “. Jawab
ayah Dila.
“ Kalau masalah itu, serahkan saja pada saya! Yang
penting Dila bisa ikut lomba! “.
“ Tapi, nanti pasti akan merepotkan bapak! “.
“ Nggak kok, besok sore suruh Dila ke Aula tempat
latihan! “.
“ Terima kasih banyak ya, pak! “.
Setelah itu, pak Hasan kembali melanjutkan
perjalanannya.
Keesokan
harinya, pukul 16.00 Dila pergi ke aula. Terlihat disana banyak yang berlatih, salah
satunya Dita. Pak Hasan menyuruh Dila menempati tempat yang kosong dengan
gamelannya. Lalu, pak Hasan pun melatih.
2 hari
menjelang hari H. Dila makin giat berlatih. Ia tidak mempedulikan celaan-celaan
dari peserta yang lain, hingga acara itu tiba. Hati Dila deg-degan.
“ Gimana, dil? Udah siap belum? Jangan sampai syok,
ya! Karena baru pertama kali tampil di panggung! “. Dita berkata. Dila hanya
mengangguk dan kembali memainkan Rubiknya. Datanglah Dika dari depan panggung
dengan terburu-buru.
“ Hei, kita diberi kesempatan berlatih, karena
perlombaan gamelan jawa, akan dilksanakan pada puncak acara! “. Dika
memberitahu. Para peserta langsung berlatih, termasuk Dila.
Acara “
Gebyar Seni “ sudah sampai puncak acara. Yang pertama di panggil adalah Dita.
Dita pun mendapat score 23, 6 dari pak Hasan, 9 dari bu Tia, dan 8 dari pak
Handoko. Yang kedua adalah Dila. Dila langsung naik ke panggung dengan
berhati-hati. Yang pertama, Dila memainkan lagu Gambang Suling, dan yang kedua
lagu Lir-Ilir. Lalu, Dila pun mendapatkan score 28, 10 dari pak Hasan, 8 dari
bu Tia, dan 10 dari pak Handoko. Yeee…., senangnya. Dari peserta-peserta lain,
score Dila lah yang tertinggi. Tapi, bukan berarti Dila yang mendapatkan gelar
pemain gamelan anak-anak terbaik se desa suka maju. Karena, selain dari nilai
juri, nilai juga didapatkan dari para penonton.
Sekarang
adalah waktunya pengumuman hasil lomba. “ Sekarang kita lihat dilayar kaca,
score siapakah yang unggul?! Bagi yang mendapat juara 1, akan mendapat uang
senilai 3 juta rupiah dan mendapat gelar pemain gamelan anak-anak terbaik se
desa suka maju! “. Host berkata.
Lalu…….., YEEE…., Dila memperoleh score tertinggi,
yaitu 183. Dila pun memperoleh uang senilai 3 juta rupiah dan gelar pemain
gamelan terbaik se desa suka maju.
“ TERNYATA AKU BISA……!!! “. Dila melompat. ‘ Wah,
mungkin ini akan jadi pengalamanku yang paling menakjubkan! Terima kasih ayah,
ibu, dan terimakasih tuhan ‘ pikir Dila dalam hati. Sekarang, Dila mengerti
akan impian. Walaupun Dila tak dapat meraih impian itu, ia akan terus berusaha
sampai waktu akan memanggil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar