Halaman

25 Feb 2013

Ternyata Aku Bisa

    Untuk memperingati Hut RI ke-64, di desa suka maju, diselenggarakan acara “ Gebyar Seni “. Acara tersebut akan diselenggarakan pada tanggal 18 agustus pada pukul 19.00 sampai pukul 22.00 di Lapangan desa suka maju. Dila, adalah salah satu penduduk desa suka maju. Dila ingin ikut perlombaan memainkan gamelan jawa, tetapi harapan itu tercapai oleh sahabatnya, Dita. Dila tidak bisa ikut perlombaan itu karena keuangan keluarganya yang berkecukupan. Jadi, ibu Dila tidak dapat mendaftarkan Dila.
        5 minggu sebelum hari H, Dila sedang memainkan gamelannya di teras rumah. Pak Hasan, panitia perlombaan, dengan tidak sengaja lewat tepat di depan rumah Dila. Beliau-pun mendengar ketukan demi ketukan gamelan yang dimainkan Dila. Lalu, pak Hasan menghampiri Dila.
“ Ayah kamu ada? “. Tanya pak Hasan.
“ Ada! Masuk saja, tak usah sungkan-sungkan! “. Jawab Dila. Pak Hasan pun menemui ayah Dila.
     “ Pak, Dila itu pintar memainkan gamelan, kenapa tidak didaftarkan saja di perlombaan memainkan gamelan jawa? “. Tanya pak Hasan kepada ayah Dila.
“ Ya itulah, karena keuangan keluarga kami! “. Jawab ayah Dila.
“ Kalau masalah itu, serahkan saja pada saya! Yang penting Dila bisa ikut lomba! “.
“ Tapi, nanti pasti akan merepotkan bapak! “.
“ Nggak kok, besok sore suruh Dila ke Aula tempat latihan! “.
“ Terima kasih banyak ya, pak! “.
Setelah itu, pak Hasan kembali melanjutkan perjalanannya.
     Keesokan harinya, pukul 16.00 Dila pergi ke aula. Terlihat disana banyak yang berlatih, salah satunya Dita. Pak Hasan menyuruh Dila menempati tempat yang kosong dengan gamelannya. Lalu, pak Hasan pun melatih.
     2 hari menjelang hari H. Dila makin giat berlatih. Ia tidak mempedulikan celaan-celaan dari peserta yang lain, hingga acara itu tiba. Hati Dila deg-degan.
“ Gimana, dil? Udah siap belum? Jangan sampai syok, ya! Karena baru pertama kali tampil di panggung! “. Dita berkata. Dila hanya mengangguk dan kembali memainkan Rubiknya. Datanglah Dika dari depan panggung dengan terburu-buru.
“ Hei, kita diberi kesempatan berlatih, karena perlombaan gamelan jawa, akan dilksanakan pada puncak acara! “. Dika memberitahu. Para peserta langsung berlatih, termasuk Dila.
      Acara “ Gebyar Seni “ sudah sampai puncak acara. Yang pertama di panggil adalah Dita. Dita pun mendapat score 23, 6 dari pak Hasan, 9 dari bu Tia, dan 8 dari pak Handoko. Yang kedua adalah Dila. Dila langsung naik ke panggung dengan berhati-hati. Yang pertama, Dila memainkan lagu Gambang Suling, dan yang kedua lagu Lir-Ilir. Lalu, Dila pun mendapatkan score 28, 10 dari pak Hasan, 8 dari bu Tia, dan 10 dari pak Handoko. Yeee…., senangnya. Dari peserta-peserta lain, score Dila lah yang tertinggi. Tapi, bukan berarti Dila yang mendapatkan gelar pemain gamelan anak-anak terbaik se desa suka maju. Karena, selain dari nilai juri, nilai juga didapatkan dari para penonton.
      Sekarang adalah waktunya pengumuman hasil lomba. “ Sekarang kita lihat dilayar kaca, score siapakah yang unggul?! Bagi yang mendapat juara 1, akan mendapat uang senilai 3 juta rupiah dan mendapat gelar pemain gamelan anak-anak terbaik se desa suka maju! “. Host berkata.
Lalu…….., YEEE…., Dila memperoleh score tertinggi, yaitu 183. Dila pun memperoleh uang senilai 3 juta rupiah dan gelar pemain gamelan terbaik se desa suka maju.
“ TERNYATA AKU BISA……!!! “. Dila melompat. ‘ Wah, mungkin ini akan jadi pengalamanku yang paling menakjubkan! Terima kasih ayah, ibu, dan terimakasih tuhan ‘ pikir Dila dalam hati. Sekarang, Dila mengerti akan impian. Walaupun Dila tak dapat meraih impian itu, ia akan terus berusaha sampai waktu akan memanggil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar